Wednesday, November 11, 2009

Apakah Anda ingat waktu di mana Anda berubah menjadi pribadi yang bukan seperti biasanya?

Dan itulah yang bisa disebut sebagai "Transformasi". Begitulah, istilah Transformasi, terdiri dari kata "trans" dan "formasi" yang bisa disebut sebagai perpindahan, perubahan, itulah "trans", sedangkan bentuk, pola, itulah "formasi". Dikaitkan dengan hal lain, misalnya transformasi sikap berarti perubahan bentuk sikap, transformasi moral berarti pergeseran moral, dan banyak lagi. Ya, transformasi sebagai suatu indikasi di mana sesuatu melekat padanya mengalami perubahan dari satu ke dua, atau dua ke satu, bisa naik atau turun, itulah "Transformasi".

Ketika saya mengaitkan banyak hal di dunia ini, semuanya tidak pernah lepas dari perubahan. Tidak ada yang tetap di dunia ini kecuali satu, perubahan. Ya, yang tetap hanyalah perubahan, yang konstan adalah perubahan, apapun itu.

Waktu, salah satu penyebabnya. Karena dimensinya membuat kita seakan-akan ada pada suatu tingkatan, waktu sebelum, waktu sesudah, tidak jauh dari itu. Linearitas waktu sebanding dengan perubahan yang terjadi di dalam fenomena alam dan fenomena sosial. Karenanya juga, hukum sebab akibat dapat berlaku dan teori determinisme tak terbantahkan. Sebuah "Transformasi" memerlukan adanya ruang yang membuatnya dapat berproses. Tentu, ada jeda di antaranya, begitupula ada waktu di antara keduanya.

Penggalian hakikat tentang "Transformasi" tidak cukup dijelaskan hanya melalui apa yang terlihat dalam bentuk fisik. Wujud lain, di balik bentuk fisik ada bentuk komplemen darinya, adalah meta-fisik, "meta" sebelum, atau selain daripada fisik.

"Terinspirasi dari macam-macam transformasi di kajian matematika lanjut, transformasi laplace, transformasi fourier, transformasi Z, ... yang semuanya membuat perubahan signifikan"

Friday, October 23, 2009

Antara Realitas dan Filsafat

Apakah setiap kehidupan kita nantinya akan berlawanan dengan apa yang kita duga? Jawabannya di antara ya, tidak dan keduanya. Realitas yang menghampiri kita selama berhadapan dengan kehidupan ini senantiasa membuat kita mati kutu. Apa sebabnya?

Ya, begitulah, selama belajar setengah semester tentang hal-hal berbau filsafat kini saya baru merasakan kontradiksi terhadap apa yang saya pikirkan dan apa yang saya lihat. Wujud dunia ideal selalu terpampang dan terbayang di pikiran saya manakala memikirkan hal-hal positif tentang apa sebenarnya tujuan dan peranan filsafat itu dalam kehidupan.

Melihat keberagaman dan keunikan individu dalam ruang lingkup kampus membuat saya terpojok pada satu sisi di mana saya asik sendiri memikirkan apa yang mereka tidak pikirkan. Merenung dan kadang melamun menjadi satu hal bagian saya berfilsafat.

Filsafat, ya bagi segelintir orang mungkin ilmu pengetahuan ini begitu asing. Filsafat adalah ilmu yang mencari hakikat tentang segala sesuatu dari realitas yang ada. Realitas yang saya hadapi inilah yang senantiasa saya pikirkan. Begitu juga dengan realitas-realitas lain yang unik dari tiap individu lain. Entah, semua realitas-realitas itu sungguh kejadian yang mengagumkan dilihat dari sudut pandang bagaimana kejadian itu bisa muncul di permukaan. Landasan berpikir kritis, logis, sistematis, dan metodis harus digunakan dalam menelaah realitas yang ada. Tanpa unsur itu berpikir menjadi tiada guna.

Dan berpikir adalah interaksi antara akal budi (common sense) dan hati nurani (conscience) dengan pengetahuan (knowledge) yang kita miliki. Filsafat adalah sarana dan yang menggunakannya adalah akal budi. Dengan sarana itu akal budi memiliki pedoman dan tuntunan dalam menelusuri sesuatu. Sedangkan hati nurani itu menjadi pembatasnya. Mudahnya begini, hal yang mengurusi benar dan salah itu adalah akal budi sedangkan hal yang mengurusi baik dan buruk adalah hati nurani. Sehingga pemikiran berlandaskan filsafat menghasilkan kesimpulan yang bukan sekadar benar namun juga baik.

Padahal, kenyataanya tidak seperti itu. Semuanya akan berlawanan dengan realitas, apapun itu. Pemikiran yang mengikuti aturan-aturan logika, runut, dan komprehensif tidak cukup untuk mengatasi masalah yang begitu rumit.

Jadi apa sebabnya?

Terserah pada Anda, karena saya takut apabila yang saya kemukakan di sini akan berlawanan terhadap realitas yang Anda hadapi nanti.

Wednesday, August 5, 2009

Pilihan yang Bukan Pilihan

Setelah beberapa lama meninggalkan dunia tulis-menulis di blog ini, saya menjadi ingin kembali ke saat-saat itu. Ide-ide berkeliaran, di kepala ini, ingin tulis ini dan itu, namun tidak kesampaian. Dan setelah beberapa minggu, akhirnya saya menyempatkan diri menuliskan sedikit tentang kehidupan baru saya di sebuah kota nun jauh di sana, kota Depok.

Apapun alasannya sebenarnya saya tidak suka menuliskan cerita-cerita pribadi saya selama di Depok ini. Namun saya sadar, ternyata hal itu ada gunanya. Ketika saya bingung apa yang saya akan lakukan, saya mencari-cari di google, saya begitu banyak menemui orang-orang yang dengan mudahnya, penuh santai, menceritakan segala pengalaman pribadi, kisah-kisah unik, dan peristiwa mengesankan yang mereka alami. Dan ini menjadi semangat saya untuk menceritakan tentang kegiatan saya di Depok.

Kota Depok, di mana saya mengejar pendidikan tepatnya di Universitas Indonesia, sungguh merupakan anugerah bagi saya. Jurusan yang saya ambil adalah Teknik Elektro. Saya memantapkan hati untuk memilih jurusan itu, karena itu adalah pilihan saya. Mungkin ini benar-benar pilihan terbesar dalam hidup saya. Karena keputusan yang saya ambil menentukan masa depan bagi saya sendiri. Semua hal tergantung pada satu hal, pilihan-pilihan itu adalah garis kehidupan yang sudah dirancang. Dan saya yakin, pilihan itu bukan sepenuhnya berdasarkan keputusan saya. Ada hal-hal yang saya sendiri tidak tahu sebabnya. Tetapi saya tetap yakin. Pilihan itu sebenarnya bukan pilihan.

Tuesday, July 21, 2009

Keberadaan dan Keunikan dalam Matematika dan Kehidupan

Berbicara keterikatan Matematika dalam kehidupan sehari-hari memang sangat menarik. Beberapa konsep abstrak yang kita kenal selama mempelajari Matematika bisa terlihat nyata, bahkan lebih dari itu, konsep teoritis sekalipun yang kajiannya dalam Matematika Murni (Pure Mathematics) dapat mengajarkan kita satu hal, keterikatan yang indah. Keterikatan itu seakan-akan memberikan pengetahuan kepada kita bahwa sebenarnya Matematika itu adalah sisi lain kehidupan manusia. Karena sering kita menemui keajaiban yang ada di dalamnya. Tidak salah seorang ilmuwan besar, Galileo Galilei pernah berujar bahwa Matematika itu adalah alat yang digunakan Tuhan untuk menggerakkan alam semesta, Mathematics is the language with which God wrote the Universe.

Terdapat dua hal bagaimana kita sebenarnya saling berhubungan di dunia ini. Yang pertama adalah hubungan kita dengan sesama manusia lainnya, dan yang kedua adalah hubungan kita dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Dari kedua hal tersebut kita bisa melihat aspek penting yang mendasari terjadinya hubungan itu.

Pertama, kita akan melihat hubungan kita dengan Tuhan. Hubungan itu sebenarnya terjadi karena satu hal yaitu "Keberadaan". Kita berhubungan dengan-Nya karena kita yakin bahwa Dia itu Wujud, Maha Ada. Dan keyakinan itu menuntut kita menjawab pertanyaan, "Mengapa Tuhan itu ada?." Tanpa kita yakin tentang keberadaan-Nya mustahil akan terjadi hubungan. Keteguhan iman seseorang yang tinggi dinilai dari keyakinan kuat bahwa Tuhan itu Ada. "Keberadaan"-Nya itulah yang menuju pada pemahaman tertinggi seorang manusia tentang Tuhan, Ketauhidan yang hakiki.

Kedua, kita akan melihat hubungan kita dengan sesama manusia. Dan jika kita menggali secara mendalam dan berpikir pada satu kata yang tepat mengapa kita harus berhubungan dengan sesama kita, tiada yang menggantikannya kecuali karena "Keunikan". Kita berhubungan dengan sesama manusia satu sama lain karena kita unik, dan itu menjadikan kita berbeda dengan yang lain. Kemampuan kita berbeda satu sama lain, kebutuhan kita berbeda, rupa kita berbeda, karakter dan sifat kita berbeda, hampir semuanya berbeda. Karena kita unik, Human is unique. Dan hubungan itupun terjalin. Semuanya berkat adanya "Keunikan". Dan kunci penting dalam berhubungan dengan sesama yaitu perihal keunikan itu sendiri, dan satu pesan itu adalah: Hargailah Perbedaan!.

Dan siapa yang tahu darimanakah sebenarnya kata singkat itu berasal, "Keberadaan" dan "Keunikan" yang sangat tepat menggambarkan hubungan di atas.

Dan ternyata, hal tentang "Keberadaan" dan "Keunikan" itu berasal dari Matematika tepatnya kajian tentang Persamaan Diferensial (Differential Equations). Persamaan Diferensial adalah persamaan matematika yang di dalamnya terdapat kombinasi fungsi diferensial dengan derajat turunan tertentu. Persamaan Diferensial ini merupakan topik yang sangat penting dalam cabang Matematika yaitu Kalkulus. Dalam penerapannya, masalah utama dalam Persamaan Diferensial adalah bagaimana menentukan solusi persamaannya. Sedangkan dalam teoritisnya, masalah utamanya ada dua hal yaitu, "Keberadaan" dan "Keunikan".

Jika kita berbicara tentang Keberadaan, maka pertanyaan yang tepat adalah, "Mengapa sebuah Persamaan Diferensial tertentu memiliki solusi? dan yang lain tidak?". Dan jika tentang Keunikan, "Mengapa Persamaan Diferensial tertentu memiliki solusi yang unik (banyak solusi)?". Melalui serangkaian teorema Matematika, The Fundamental Existence and Uniqueness Theorem of Differential Equations, kita dapat mengetahui alasan yang jelas "Mengapa?" demikian.

Seperti halnya kita ajukan pertanyaan pada diri kita, "Apakah Tuhan itu ada?", kita pasti dapat menjawab dengan mudah. Tetapi jika pertanyaannya adalah, "Mengapa Tuhan itu ada?", ini tergantung pemahaman kita masing-masing. Dan jawaban itulah yang menempatkan iman kita pada tingkat yang sebenarnya.

Dan itulah keterikatan yang saya maksud, "Keberadaan" dan "Keunikan". Meskipun saya sadar pemahaman saya tentang Persamaan Diferensial ini masih rendah, tetapi ketika mengetahui kedua hal tersebut ada gejolak dalam diri saya untuk menuliskan tentang hal ini. Padahal pada awalnya saya agak kurang yakin bisa menulisnya dengan baik. Oleh karena itu dengan pemahaman saya yang terbatas saya menuliskan apa adanya di blog ini. Jika ada gagasan saya yang salah, saya minta maaf. Saya sangat senang jika Anda dapat mengomentarinya.