Siapa yang tidak kenal dengan Andrea Hirata, novelis kawakan Indonesia yang telah menulis novel fenomenal, Laskar Pelangi. Novel yang bercerita tentang anak-anak Belitong ini telah menginspirasi banyak orang di dunia pendidikan. Bagaimana tidak, perhatikan ceritanya begitu mengharukan dan sangat menarik untuk dibaca. Perjuangan anak-anak Belitong untuk mengenyam pendidikan di sebuah sekolah yang sudah reyot itupun dijadikan sebuah layar lebar yang tidak kalah fenomenal dengan novelnya itu sendiri.

Mungkin cukup sekian pendahuluan untuk novel tersebut. Yang saya ingin tulis di blog ini adalah satu kutipan pada novel Laskar Pelangi yang menyiratkan gagasan sang penulis, Andrea Hirata tentang Manusia Pertama.

Di bagian novelnya pada Bab 2, sub judul Langit Ketujuh bercerita tentang Lintang, yang memiliki kepintaran dan kecerdasan yang luar biasa. Ini tergambar dari permainan kata-kata nan indah dari Andrea Hirata lewat gaya penceritaannya yang seakan-akan membuat pembaca secara tidak langsung merasakan pesona dari Lintang itu sendiri. Di salah satu bagian cerita itu, si Penulis bercerita tentang Lintang ketika berpendapat tentang Teori Evolusi, teori yang memaksakan pendapat bahwa manusia berasal dari nenek moyang semacam lutung. Berikut argumentasinya, yang saya kutip dari novel itu,

"Persoalannya adalah apakah Anda seorang religius, seorang darwinian, atau sekadar seorang oportunis? Pilihan sesungguhnya antara religius dan darwinian, sebab yang tidak memilih adalah oportunis! Yaitu mereka yang berubah-ubah sikapnya sesuai situasi mana ynag akan lebih menguntungkan mereka. Lalu pilihan itu seharusnya menentukan perilaku dalam menghargai hidup ini. Jika Anda seorang darwinian, silakan berperilaku seolah tak ada tuntunan akhirat, karena bagi Anda kitab suci yang memaktub bahwa manusia berasal dari Nabi Adam adalah dusta. Tapi jika Anda seorang religius maka Anda tahu bahwa teori evolusi itu palsu, dan ketika Anda tak kunjung mempersiapkan diri Anda untuk dihisab nanti dalam hidup setelah mati, maka dalam hal ini Anda tak lebih dari sekuler oportunis yang akan dibakar di dasar neraka."

Dan perhatikan kalimat yang ditebalkan itu. Saya yakin kalimat "...manusia berasal dari Nabi Adam..." menyiratkan bahwa Nabi Adam as. itu adalah manusia pertama. Dan jika "Anda" yang dimaksudkan itu adalah saya atau orang muslim lainnya, saya sungguh menolak kenyataan itu. Dengan jelas sekali kitab suci Alquranul Karim menerangkan bahwa Nabi Adam as. bukanlah manusia pertama, karena sebelum Nabi Adam as. itu sendiri sudah ada manusia yang menempati bumi ini. Lihat di surah Al-Baqarah ayat 30. Jadi menganggap kitab suci Alquranul Karim dusta adalah kesalahan besar. Dan sangat lucu jika dijadikan alasan untuk menolak adanya tuntunan akhirat. Sekalipun terkadang setiap kita berbeda penafsiran, tetapi makna dan isi dari hakikat Alquran itu sendiri mutlak benar, dan kebenaran dari kita, manusia yang lemah ini hanyalah relatif. Saya pun mengakui saya tidak mutlak benar dalam penafsiran ini. Karena saya tahu yang menentukan benar atau salahnya kita adalah Allah SWT. Intinya, Alquran itu TIDAK ADA DUSTA.

Lain halnya jika "Anda" yang dimaksudkan itu adalah yang lain. Tafsirkanlah sendiri.

Mungkin saya tidak akan menjelaskannya secara panjang lebar, karena saya tidak mempunyai hak untuk itu. Biarlah, orang-orang yang terspesialisasi dan berkompeten dalam bidangnya dapat menggali secara dalam masalah itu.

Dan konsekuensi ini membuat saya bertanya pada satu hal. Apakah Teori Evolusi itu benar? Dikatakan oleh Andrea Hirata melalui argumentasi Lintang, "...Tapi jika Anda seorang religius maka Anda tahu bahwa teori evolusi itu palsu..." Padahal kebenaran yang saya pegang sekarang adalah teori evolusi masih dalam kebimbangan. Ini karena saya pun pernah membaca dua kebenaran yang saling berkontardiksi satu sama lain. Itu antara benar dan salah. Palsu atau tidaknya teori evolusi itu saya tidak mau berpendapat. Meskipun saya tahu konsekuensi sebelumnya, saya yakin Nabi Adam as. bukan manusia pertama. Tetapi jika Nabi Adam as. bukan manusia pertama maka darimanakah dia?. Kemudian darimanakah asal-usulnya? masih menjadi tanda tanya besar bagi saya. Jadi, saya tidak mengetahui, kereligiusan saya berdasarkan ungkapan Andrea Hirata itu.

Tetapi saya yakin satu hal, Two truths can obviously never contradict each other arinya dua kebenaran secara jelas tidak pernah bertentangan satu sama lain, seperti yang telah diungkapan Galileo Galilei, dan berkali-kali ditekankan oleh Soekmana Soma dalam bukunya Dialog Antara Dua Kebenaran.